Brigjen Purn. Temas: Mimpi Lama yang Terwujud dalam Pesantren DIQI
- Yayasan Diqi
- May 20
- 1 min read

Sejak kecil, Temas sudah punya keinginan untuk menjadi santri. Namun, jalan hidup membawanya ke jalur berbeda—hingga akhirnya berkarier panjang di dunia militer. Meski demikian, mimpi itu tidak pernah padam. Setelah pensiun, ia justru kembali ke cita-cita lamanya: membangun pesantren sebagai ladang pengabdian baru.
Dari Santri ke Militer
Temas tumbuh dalam keluarga sederhana di Cirebon. Ketertarikan pada dunia santri sudah muncul sejak dini, tapi ia menempuh pendidikan umum hingga akhirnya masuk Akademi Militer. Puluhan tahun ia jalani pengabdian di TNI, namun di balik disiplin dan tugas negara, ada kerinduan yang terus tersimpan: mendalami Al-Qur’an.
Rumah Tahfidz: Titik Awal
Memasuki usia pensiun, kerinduan itu makin kuat. “Mimpi kecil saya tidak pernah hilang,” begitu ia sering bilang. Maka, tahun 2018 ia mulai mendirikan rumah tahfidz sederhana di samping rumahnya di Desa Bojong Koneng, Bogor. Dari garasi rumah dan mushola kecil, aktivitas mengaji dimulai bersama belasan anak sekitar.

Pengabdian Setelah Pensiun
Perjalanan itu berkembang. Dukungan masyarakat, para guru ngaji, dan donatur membuat kegiatan semakin besar. Hingga pada 2022, berdirilah Pesantren Daarul Ilmi Qur’ani Indonesia (DIQI)—sebuah wadah pendidikan Qur’an yang dibangun bukan hanya untuk mencetak penghafal Qur’an, tapi juga membekali santri dengan akhlak mulia dan kemandirian.

Mencetak Generasi Qur'ani
DIQI hadir dengan tekad membantu generasi muda mencintai Al-Qur’an, memberantas buta huruf Al-Qur’an, serta memberi akses pendidikan untuk yatim dan dhuafa. Tidak berhenti di sisi agama, DIQI juga mendorong kemandirian ekonomi dengan usaha pesantren.
Mimpi yang dulu sempat tertunda akhirnya menemukan jalannya. Dari dunia militer ke dunia pendidikan Qur’an, perjalanan Temas mengajarkan satu hal: niat baik selalu menemukan jalannya.






Comments